Para Pencinta Alam Ajak Murid SDN Pancawati Caringin Cintai Kembali Permainan Tradisional

Para Pencinta Alam Ajak Murid SDN Pancawati Caringin Cintai Kembali Permainan Tradisional

BOGOR, EKSKUL NEWS – Komunitas yang satu ini bukan sekadar hobi memanjat gunung. Komunitas Pendaki Gunung Bogor Selatan ini rupanya kerap menyisihkan waktu secara rutin di sela – sela kopi darat (kopdar) untuk bermain bersama anak-anak Sekolah Dasar ( SD ).

Momen bersama anak – anak sekolah dasar ini menjadi kesempatan yang baik bagi komunitas pendaki gunung ini untuk membangkitkan kembali permainan tradisional, yang sejak beberapa dekade terakhir ini mulai punah di masyarakat. Selain diberikan pengetahuan, anak-anak diajari langsung beraneka permainan tradisional. Sebut saja seperti Sondah, Lempar Batu Gampar, Egrang atau Jangkungan, dan Gatrik.

Alhasil, mayoritas anak-anak berusia antara 6-12 tahun saat ini tertarik untuk memainkannya. Keceriaan nampak di wajah mereka menggambarkan keseruan dunia anak-anak yang semestinya. Pantauan EkskulNews seperti yang terjadi saat Komunitas Pendaki Gunung Bogor Selatan bermain sejumlah permainan tradisional bersama puluhan anak-anak Sekolah Dasar Pancawati 01 di Kampung Legok Nyenang, Desa Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Minggu (22/10/2017). Mereka mengajarkan anak – anak dan memberikan kebahagiaan tanpa gadget atau alat permainan modern lain.

“Kami biasa mengumpulkan anak-anak sekolah dasar dan bermain permainan Tradisional Sunda di saat kami melakukan kopdar di Rumah Opel alfarizi, Anggota Komunitas. Kebetulan bulan ini kami berkumpul di Desa Pancawati,” kata Ketua Komunitas Pendaki Gunung Bogor Selatan, Yazid Alzio.

Yazid mengungkapkan, kegiatan mengajak anak-anak memainkan permainan Tradisional didorong rasa peduli lantaran permainan Tradisional mulai punah tergerus kemajuan zaman dan kemajuan teknologi dengan adanya gadget.

“Kami khawatir, banyak anak-anak sekarang yang telah menjadi korban gadget dan dampak negatifnya banyak dikeluhkan orangtua. Di antara dampak buruknya, anak-anaknya sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitar karena keasyikan bermain dengan gadget. Produk gadget mendidik anak jadi individualis, mempengaruhi sifat kekerasan, dan banyak lagi yang lainnya,” ungkap Yazid.

Padahal, kata Yazid, beraneka permainan tradisional yang pernah ada banyak memberikan edukasi positif. “Mendidik anak sifat gotong royong, kompak, tidak individualis, menyehatkan fisik anak, serta mendidik anak kreatif,” pungkasnya.

(Iwan/Taufik)

Previous Karang Taruna Tunas Mandiri Desa Langensari Gelar Khitanan Massal
Next Sikapi Masalah Puncak, Tokoh Muda Sepakat Bentuk Forum "Puncak Ngahiji"

About author

You might also like

Pendidikan 0 Comments

Menjaring Potensi Atlit Taekwondo Berbakat

BOGOR,INFODESAKU – Untuk menggali potensi atlet muda berbakat, Pengurus Cabang (Pengcab) Teakwondo Indonesia (TI) Kabupaten Bogor, menggelar Kejuaraan Taekwondo Pelajar 2017, di Padepokan Voli Sentul, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang,

Hot News 0 Comments

Toserba Ini Diduga Tak Miliki Izin? FPPG : Pemkab Amburadul

GARUT, INFODESAKU – Toko serba ada (toserba) yang sudah berdiri puluhan tahun di kabupaten Garut menimbulkan pertanyaan warga sekitar, pasalnya sampai saat ini tidak pernah ada sosialisasi dan pemanfaatan CSR.

Pendidikan 0 Comments

Ke Prihatinan Ditengah Kota Garut, ”Tiga Kepala Sekolah Bertumpuk Disatu Bangunan Sempit Dan Reyod”

GARUT. INFOSESAKU – Pembangunan pasilitas pendidikan terus berjalan baik ruang kelas baru maupun rehab dengan maksud dan tujuan memberikan pasilitas yang aman dan nyaman bagi pendidik dan yang di didik,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply